Share ke media
Advetorial Kutai Timur

Sempat Mati Total akibat Petir, PLTS Pulau Miang Kembali Beroperasi

22 Sep 2026 12:00:48305 Dibaca
No Photo

Kutai Timur - Pasokan listrik masyarakat Desa Pulau Miang, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), sempat mengandalkan generator set (genset) setelah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) mengalami kerusakan akibat tersambar petir. Kondisi tersebut membuat pemerintah desa harus menyiapkan sumber listrik alternatif agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

Kepala Desa (Kades) Pulau Miang, Alimuddin Daoed, mengatakan kerusakan PLTS terjadi beberapa bulan sebelum keterangannya disampaikan. Akibat sambaran petir tersebut, pembangkit mengalami kerusakan hingga tidak dapat beroperasi.

“Sudah beberapa bulan ini tenaga listrik kita, PLTS kita ini tersambar petir. Tersambar, sayangnya mati total,” ujarnya.

Menghadapi kondisi itu, pemerintah desa berinisiatif mengoperasikan genset sebagai sumber listrik sementara. Namun, penggunaan genset membutuhkan biaya bahan bakar yang cukup besar. Alimuddin menyebut pengeluaran untuk kebutuhan tersebut mencapai sekitar Rp29 juta per bulan.

Besarnya biaya operasional membuat pemerintah desa berupaya mencari dukungan agar pasokan listrik masyarakat tetap berjalan. Menurut Alimuddin, pemerintah desa mendatangi warga dari rumah ke rumah untuk meminta dukungan. Penggunaan dana desa juga disebut menjadi bagian dari upaya membiayai kebutuhan listrik selama PLTS belum dapat digunakan.

Di tengah upaya tersebut, pemerintah desa kemudian mendatangkan teknisi dari Riau untuk memperbaiki pembangkit yang mengalami kerusakan. Setelah penanganan dilakukan, kondisi PLTS kembali membaik dan listrik dapat dimanfaatkan lagi oleh masyarakat Pulau Miang.

Meski pembangkit telah diperbaiki, pengoperasiannya masih menghadapi kendala lain, terutama yang berkaitan dengan kondisi cuaca. Sebagai pembangkit yang memanfaatkan tenaga surya, PLTS membutuhkan cahaya matahari untuk menghasilkan listrik. Ketika cuaca berkabut, produksi listrik dapat terganggu.

Alimuddin mengatakan kondisi cuaca tersebut sempat menyebabkan pembangkit tidak dapat beroperasi selama beberapa hari.

“Tiga hari kemarin itu tidak bisa operasi,” katanya.

Ia menjelaskan, PLTS di Pulau Miang telah digunakan sejak 2017 dengan dukungan pemerintah pusat. Setelah beroperasi selama beberapa tahun, pembangkit tersebut mulai menghadapi gangguan yang membutuhkan penanganan teknis.

Kedatangan teknisi dan perbaikan yang dilakukan menjadi langkah untuk memulihkan fungsi pembangkit. Namun, pengalaman kerusakan akibat sambaran petir serta kendala cuaca menunjukkan bahwa keberlangsungan pasokan listrik masih membutuhkan perhatian.

Bagi masyarakat Pulau Miang, listrik merupakan kebutuhan yang menunjang aktivitas sehari-hari. Ketika PLTS tidak dapat beroperasi, pemerintah desa harus mencari alternatif agar kebutuhan tersebut tetap terpenuhi. Dalam kondisi sebelumnya, genset menjadi pilihan sementara meskipun membutuhkan biaya bahan bakar yang besar.

Situasi tersebut juga memperlihatkan pentingnya menjaga keandalan sistem kelistrikan yang digunakan masyarakat. Perbaikan pembangkit menjadi salah satu langkah yang telah dilakukan, sementara kendala operasional akibat cuaca masih menjadi tantangan bagi penggunaan PLTS.

Pemerintah desa berharap dukungan terhadap sistem kelistrikan Pulau Miang dapat terus diperkuat. Dengan pembangkit yang berfungsi secara optimal dan sistem pasokan yang lebih dapat diandalkan, masyarakat diharapkan tidak perlu terlalu bergantung pada genset ketika PLTS mengalami gangguan.

Keberadaan sumber listrik yang stabil diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan. Pengalaman kerusakan PLTS dan besarnya biaya penggunaan genset menjadi perhatian dalam upaya menjaga pasokan listrik di Pulau Miang agar tetap tersedia bagi warga. (EL/ADV)

Terkini