Kutai Timur – Potensi aren genjah di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menjadi salah satu komoditas yang mulai didorong untuk berkembang melalui penguatan industri pengolahan. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim melihat komoditas tersebut tidak hanya memiliki nilai dari sisi budidaya, tetapi juga peluang untuk dikembangkan menjadi produk olahan yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Kepala Bidang Industri Disperindag Kutim, Achmad Dony Erviady, mengatakan bahwa aren genjah merupakan salah satu komoditas unggulan yang telah dijajaki untuk masuk dalam rencana pengembangan industri berbasis potensi daerah.
“Yang sudah saya jajaki adalah produk unggulan Kutim yang masuk di dalam 50 program bupati. Yang pertama adalah masalah gula aren, aren genjah,” ujar Dony saat ditemui di ruang kerjanya.
Menurut Dony, pengembangan aren genjah tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi bahan baku. Potensi tersebut perlu didukung melalui hilirisasi agar hasil dari komoditas lokal dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih besar.
Disperindag Kutim pun menyiapkan rencana pengembangan kawasan industri untuk sejumlah komoditas unggulan, termasuk aren genjah. Setiap kawasan nantinya direncanakan disesuaikan dengan potensi komoditas dan kondisi wilayah masing-masing.
“Kawasan ini beda-beda. Jadinya nanti kawasan industri pembuatan aren, kawasan industri pembuatan nanas, kawasan industri pembuatan kakao, dan kawasan industri pembuatan pisang,” jelasnya.
Ia menekankan, sebelum pengembangan fasilitas produksi dilakukan, diperlukan kajian yang matang. Kajian tersebut penting untuk melihat ketersediaan bahan baku, kemampuan produksi masyarakat, serta kebutuhan fasilitas pendukung agar kawasan yang dibangun dapat beroperasi secara berkelanjutan.
Dalam pengembangan aren genjah, dirinya turut menyinggung potensi bibit yang berasal dari Kutim. Ia menyebut, keberadaan aren genjah dari daerah ini telah dikenal hingga luar Kalimantan.
“Aren genjah kita itu luar biasa. Bibit pohon aren dari Kutim sudah ada di Sumatera,” tuturnya
Menurutnya, potensi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan industri pengolahan di daerah. Apabila potensi budidaya dan bahan baku dapat dihubungkan dengan fasilitas pengolahan, masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh manfaat dari hasil produksi mentah.
Namun, dirinya menilai pengembangan industri tetap harus dilakukan berdasarkan kebutuhan dan kondisi nyata di lapangan. Fasilitas produksi harus memenuhi standar dan mampu digunakan secara optimal oleh masyarakat.
Dony mencontohkan pentingnya kesiapan sarana produksi dalam menghasilkan produk yang dapat memenuhi standar pemasaran. Karena itu, konsep rumah produksi dan kawasan industri perlu dipersiapkan melalui kajian yang mempertimbangkan berbagai kebutuhan sejak awal.
“Kalau tidak ada standar, produk itu akan sulit untuk dikembangkan. Makanya pentingnya kajian itu, supaya dari awal kita sudah mengetahui apa yang dibutuhkan,” ungkapnya.
Melalui pengembangan yang terencana, aren genjah diharapkan tidak hanya menjadi komoditas budidaya. Disperindag Kutim ingin mendorong terbentuknya rantai nilai yang lebih lengkap, mulai dari ketersediaan bahan baku hingga pengolahan menjadi produk bernilai tambah.
Penguatan hilirisasi tersebut menjadi bagian dari upaya memaksimalkan potensi lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Dengan dukungan fasilitas yang sesuai, pembinaan, dan perencanaan yang matang, aren genjah diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu basis industri berbasis komoditas unggulan Kutim. (TS/ADV)
Masukkan alamat email untukmendapatkan informasi terbaru