Share ke media
Advetorial Kutai Timur

Ketahanan Pangan Kutim Fokus Tangani Penyerapan 3.000 Ton Panen Raya Kaubun

23 Sep 2026 04:00:15299 Dibaca
No Photo

Kutai Timur — Panen raya yang tengah berlangsung di Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menjadi salah satu perhatian awal Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kutim, Dyah Ratnaningrum.


Produksi gabah yang diperkirakan mencapai sekitar 3.000 ton pada September ini perlu diimbangi dengan kesiapan penyerapan dan penanganan hasil panen agar produktivitas petani dapat terus berlanjut.


Dyah mengatakan bahwa penanganan sektor hilir menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan program pertanian. Ketika produksi di tingkat petani meningkat, pemerintah daerah (Pemda) perlu memastikan hasil panen memiliki jalur penanganan yang baik, mulai dari pengelolaan gabah hingga kualitas beras.


“Salah satu yang menjadi perhatian khusus pada September ini adalah Kobun yang sedang panen raya. Ada kurang lebih 3.000 ton panen dari teman-teman di Kaubun. Ini harus kita atasi, bagaimana caranya agar bisa terserap pasar, bagaimana menangani gabah kering panennya, dan kemudian kita juga harus menangani dari sisi kualitas berasnya,” ujar Dyah.


Menurutnya, persoalan ketahanan pangan tidak berhenti pada peningkatan produksi di tingkat petani. Hasil pertanian yang telah diproduksi tetap membutuhkan penanganan pada tahap berikutnya agar dapat tersalurkan dan memberikan manfaat ekonomi.


Ia yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, mengatakan dirinya memahami pentingnya keterhubungan antara sektor produksi dan penanganan hasil pertanian.


“Kalau hilirnya tidak dikerjakan, hulunya akan berhenti. Itu yang sebenarnya menjadi kekhawatiran saya juga pada saat saya menjadi kepala DTPHP,” tuturnya.


Dirinya menjelaskan, peningkatan produksi perlu berjalan beriringan dengan kesiapan penanganan hasil panen. Karena itu, keberadaan Dinas Ketahanan Pangan memiliki peran dalam memastikan persoalan setelah panen juga mendapat perhatian.


Selain penyerapan pasar, kualitas beras juga menjadi perhatian. Menurut Dyah, pengelolaan hasil panen tidak hanya berkaitan dengan jumlah produksi, tetapi juga bagaimana kualitas produk pangan yang dihasilkan dapat dijaga.


“PR-nya masih banyak. Tempat yang baru, semangat yang baru, mudah-mudahan saya akan berjuang maksimal untuk bisa membantu di hilirnya sehingga di hulunya ini tetap bergerak dengan baik,” ungkapnya.


Dyah berharap penanganan hasil panen di Kobun dapat berjalan maksimal. Dengan pengelolaan sektor hilir yang semakin baik, peningkatan produksi yang telah diupayakan para petani diharapkan tetap dapat memberikan manfaat dan mendorong keberlanjutan pertanian di Kutim. (TS/ADV)