Share ke media
Advetorial Kutai Timur

Pemerataan Tenaga Kesehatan Masih Jadi Tantangan

30 Nov 2025 04:00:44326 Dibaca
No Photo

Pemerataan Tenaga Kesehatan Masih Jadi Tantangan

Kutai Timur – Di tengah upaya memperkuat layanan kesehatan dasar, distribusi tenaga medis di Kutai Timur masih menghadapi hambatan, terutama pada wilayah pedalaman.

Pemerintah daerah terus berupaya memenuhi standar formasi tenaga kesehatan di setiap puskesmas agar pelayanan masyarakat tidak terhambat.

Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur Sumarno menyampaikan bahwa idealnya satu puskesmas memiliki dokter gigi, dua dokter umum, tenaga analis, apoteker atau farmasi, serta perawat dan bidan.

Namun, tidak semua tenaga medis bersedia ditempatkan di daerah terpencil yang aksesnya sulit dan jauh dari pusat kota.

“Distribusi ini masih menjadi tantangan, terutama untuk wilayah pedalaman,” ujarnya pada Rabu (5/11/2025).

Saat ini, sebanyak 21 puskesmas telah berstatus BLUD (Badan Layanan Umum Daerah), yang memungkinkan puskesmas merekrut dokter mandiri melalui skema penggajian dari BLUD.

Meski demikian, kekurangan tenaga kesehatan masih terjadi di beberapa puskesmas, seperti di Batu Ampar dan Rantau Pulung yang belum memiliki dokter gigi tetap. Tahun ini, satu dokter gigi baru akan ditempatkan dari mutasi internal wilayah Tando Pulo.


“Kami berupaya menutup kekurangan itu secara bertahap, termasuk melalui penempatan tenaga kontrak dan kerja sama,” jelasnya.

Selain skema rekrutmen daerah, Kutai Timur juga mendapat dukungan dari program Nusantara Sehat Kementerian Kesehatan.

Penempatan tenaga Nusantara Sehat berlaku dengan kontrak dua tahun, dan gaji ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah pusat.

Tenaga tersebut telah ditempatkan di Puskesmas Sandaran, Karangan, Muara Wahau I, dan Muara Wahau II dengan formasi berbeda sesuai kebutuhan setiap puskesmas.

Program ini diharapkan dapat menambah tenaga layanan dasar tanpa membebani anggaran daerah sekaligus menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan dalam jangka pendek.

Namun, solusi jangka panjang tetap memerlukan edukasi, insentif penugasan khusus, serta peningkatan kenyamanan kerja bagi tenaga kesehatan di wilayah terpencil. (SH/ADV)