Kutai Timur – Wajah transmigrasi di Kabupaten Kutai Timur kini mengalami perubahan total. Program yang sebelumnya dikenal sebagai pemindahan penduduk antarwilayah kini bertransformasi menjadi arus baru pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan terintegrasi. Pemerintah daerah mengubah paradigma lama transmigrasi menjadi sistem yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, peningkatan produktivitas, serta kesejahteraan jangka panjang bagi masyarakat transmigran.
Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kutai Timur, Roma Malau, menegaskan bahwa paradigma baru ini menjadi langkah strategis untuk menjadikan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi daerah. “Transformasi transmigrasi saat ini tidak lagi sekadar pemindahan penduduk, tetapi menjadi sistem pembangunan ekonomi yang terintegrasi secara menyeluruh,” katanya. Ia menambahkan, “Hal ini mencerminkan pendekatan pembangunan yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat di Kabupaten Kutai Timur,” menekankan komitmen pemerintah dalam menerapkan konsep pembangunan yang inklusif.
Transformasi ini dirancang agar potensi lahan di kawasan transmigrasi dapat dimanfaatkan secara optimal melalui integrasi antara sektor pertanian, perkebunan, peternakan, hingga industri pengolahan hasil bumi. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat.
Selain itu, pemerintah daerah menggandeng berbagai lembaga pendidikan dan penelitian untuk mendukung inovasi teknologi tepat guna yang bisa diterapkan langsung oleh masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi pertanian modern, meningkatkan kualitas hasil produksi, dan menumbuhkan keterampilan warga transmigran.
Dengan strategi ini, Kutai Timur berupaya menciptakan transmigrasi modern yang tidak sekadar memindahkan penduduk, tetapi juga membangun pusat ekonomi baru di kawasan pedesaan. Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah dalam memperkuat ekonomi lokal serta mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah, sehingga setiap kawasan transmigrasi dapat menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (SH/ADV).
Masukkan alamat email untukmendapatkan informasi terbaru