Kutai Timur - Ketergantungan masyarakat terhadap nasi sebagai sumber pangan utama menjadi salah satu perhatian Dinas Ketahanan Pangan Kutai Timur (Kutim). Edukasi diversifikasi pangan terus diarahkan agar masyarakat mengenal pilihan sumber pangan lain yang tetap memenuhi kebutuhan gizi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kutim, Dyah Ratnaningrum, mengatakan edukasi tersebut salah satunya dilakukan melalui konsep pangan beragam, bergizi, seimbang dan aman atau B2SA.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa sumber karbohidrat, protein, vitamin, dan kebutuhan gizi lainnya tidak hanya berasal dari satu jenis bahan pangan. Karena itu, diversifikasi menjadi bagian dari pengenalan pola konsumsi pangan yang lebih beragam.
“Jangan tidak juga harus selalu makan nasi. Bisa pengganti karbohidratnya apa, pengganti proteinnya apa dan sebagainya,” kata Dyah.
Sosialisasi B2SA juga diarahkan kepada anak-anak sekolah. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan pilihan pangan selain beras sekaligus mengenalkan konsep pangan yang beragam dan tetap bergizi.
Dalam pelaksanaannya, Dinas Ketahanan Pangan bekerja sama dengan PKK. Kegiatan B2SA disebut telah dilaksanakan pada awal Agustus.
Selain diversifikasi konsumsi, Dinas Ketahanan Pangan juga memiliki program Teras Pangan yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan pekarangan. Pemanfaatan tersebut diarahkan untuk menyediakan berbagai sumber pangan di lingkungan keluarga.
“Teras pangan itu adalah pemanfaatan lahan pekarangan. Untuk sumber energi, sumber protein, sumber vitamin,” ujar Dyah.
Pekarangan dapat dimanfaatkan untuk tanaman sayur-sayuran, cabai, terong, maupun pemeliharaan ayam. Pemanfaatan juga dapat diintegrasikan dengan budidaya ikan seperti lele atau nila dalam lingkup halaman rumah.
Program tersebut merupakan bagian dari pemanfaatan ruang yang tersedia di sekitar keluarga untuk mendukung kebutuhan pangan. Dengan dilakukan dalam skala rumah tangga, masyarakat dapat memanfaatkan pekarangan sesuai kondisi masing-masing.
Dyah menjelaskan penguatan pangan keluarga tidak harus selalu dilakukan melalui lahan dalam skala luas. Pemanfaatan pekarangan secara sederhana apabila dilakukan secara luas dan bersama-sama dapat memberikan dukungan terhadap ketahanan pangan keluarga.
Konsep tersebut juga berkaitan dengan pengendalian kebutuhan pangan tertentu. Dalam wawancara, cabai disebut sebagai salah satu komoditas yang mendapat perhatian dalam kaitannya dengan inflasi. Gerakan menanam di rumah dan kantor dapat menjadi salah satu bentuk pemanfaatan pekarangan untuk memenuhi sebagian kebutuhan tersebut.
Melalui diversifikasi konsumsi dan pemanfaatan pekarangan, Dinketapang Kutim mendorong ketahanan pangan dimulai dari lingkungan keluarga. Langkah tersebut sekaligus memperkenalkan masyarakat pada sumber pangan yang lebih beragam sesuai kebutuhan. (ADV/IR)
Kutai Timur - Ketergantungan masyarakat terhadap nasi sebagai sumber pangan utama menjadi salah satu perhatian Dinas Ketahanan Pangan Kutai Timur (Kutim). Edukasi diversifikasi pangan terus diarahkan agar masyarakat mengenal pilihan sumber pangan lain yang tetap memenuhi kebutuhan gizi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kutim, Dyah Ratnaningrum, mengatakan edukasi tersebut salah satunya dilakukan melalui konsep pangan beragam, bergizi, seimbang dan aman atau B2SA.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa sumber karbohidrat, protein, vitamin, dan kebutuhan gizi lainnya tidak hanya berasal dari satu jenis bahan pangan. Karena itu, diversifikasi menjadi bagian dari pengenalan pola konsumsi pangan yang lebih beragam.
“Jangan tidak juga harus selalu makan nasi. Bisa pengganti karbohidratnya apa, pengganti proteinnya apa dan sebagainya,” kata Dyah.
Sosialisasi B2SA juga diarahkan kepada anak-anak sekolah. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan pilihan pangan selain beras sekaligus mengenalkan konsep pangan yang beragam dan tetap bergizi.
Dalam pelaksanaannya, Dinas Ketahanan Pangan bekerja sama dengan PKK. Kegiatan B2SA disebut telah dilaksanakan pada awal Agustus.
Selain diversifikasi konsumsi, Dinas Ketahanan Pangan juga memiliki program Teras Pangan yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan pekarangan. Pemanfaatan tersebut diarahkan untuk menyediakan berbagai sumber pangan di lingkungan keluarga.
“Teras pangan itu adalah pemanfaatan lahan pekarangan. Untuk sumber energi, sumber protein, sumber vitamin,” ujar Dyah.
Pekarangan dapat dimanfaatkan untuk tanaman sayur-sayuran, cabai, terong, maupun pemeliharaan ayam. Pemanfaatan juga dapat diintegrasikan dengan budidaya ikan seperti lele atau nila dalam lingkup halaman rumah.
Program tersebut merupakan bagian dari pemanfaatan ruang yang tersedia di sekitar keluarga untuk mendukung kebutuhan pangan. Dengan dilakukan dalam skala rumah tangga, masyarakat dapat memanfaatkan pekarangan sesuai kondisi masing-masing.
Dyah menjelaskan penguatan pangan keluarga tidak harus selalu dilakukan melalui lahan dalam skala luas. Pemanfaatan pekarangan secara sederhana apabila dilakukan secara luas dan bersama-sama dapat memberikan dukungan terhadap ketahanan pangan keluarga.
Konsep tersebut juga berkaitan dengan pengendalian kebutuhan pangan tertentu. Dalam wawancara, cabai disebut sebagai salah satu komoditas yang mendapat perhatian dalam kaitannya dengan inflasi. Gerakan menanam di rumah dan kantor dapat menjadi salah satu bentuk pemanfaatan pekarangan untuk memenuhi sebagian kebutuhan tersebut.
Melalui diversifikasi konsumsi dan pemanfaatan pekarangan, Dinketapang Kutim mendorong ketahanan pangan dimulai dari lingkungan keluarga. Langkah tersebut sekaligus memperkenalkan masyarakat pada sumber pangan yang lebih beragam sesuai kebutuhan. (ADV/IR)
Masukkan alamat email untukmendapatkan informasi terbaru