Share ke media
Advetorial Kutai Timur

Empat Komoditas Unggulan Kutim Disiapkan Jadi Kawasan Industri

15 Sep 2026 03:00:29324 Dibaca
No Photo

Kutai Timur – Pengembangan industri berbasis potensi daerah mulai diarahkan lebih terencana di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim menjajaki pengembangan kawasan industri berbasis empat komoditas unggulan, yakni aren genjah, nanas, kakao, dan pisang.


Keempat komoditas tersebut dipandang memiliki potensi untuk dikembangkan tidak hanya sebagai hasil pertanian, tetapi juga menjadi bahan baku industri yang dapat menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.


Karena itu, pengembangannya akan diarahkan melalui kawasan yang disesuaikan dengan karakter dan potensi masing-masing wilayah.


Kepala Bidang Industri Disperindag Kutim Achmad Dony Erviady mengatakan, empat komoditas tersebut termasuk produk unggulan Kutim yang tengah dijajaki untuk dikembangkan lebih lanjut. Pengembangan itu juga berkaitan dengan produk yang masuk dalam 50 program Bupati Kutim.


“Yang sudah saya jajaki adalah produk unggulan Kutim yang masuk di dalam 50 program bupati. Yang pertama adalah terkait gula aren, yaknj aren genjah. Terus yang kedua itu terkait dengan nanas Himba Lestari di Batu Ampar. Terus yang ketiga terkait dengan kakao yang ada di Karangan. Yang keempat adalah pisang yang ada di Kaliorang,” ujar Dony saat ditemui di ruang kerjanya.


Dony menjelaskan, kawasan industri tersebut nantinya tidak dibuat dalam satu lokasi untuk seluruh komoditas. Setiap komoditas akan dikembangkan melalui kawasan masing-masing sehingga pengelolaan dapat disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku dan karakter wilayah.


“Kawasan ini beda-beda. Jadinya nanti kawasan industri pembuatan aren, kawasan industri pembuatan nanas, kawasan industri pembuatan kakao, kawasan industri pembuatan pisang,” jelasnya.


Sebelum masuk pada tahap pembangunan, Disperindag akan melakukan kajian terlebih dahulu. Kajian tersebut rencananya dilakukan bersama Universitas Mulawarman (Unmul) Kota Samarinda untuk memastikan pengembangan kawasan memiliki dasar perencanaan yang jelas.


Menurutnya, kajian diperlukan untuk mengetahui kemampuan bahan baku di masing-masing wilayah. Hal tersebut penting karena keberadaan kawasan industri harus didukung ketersediaan bahan baku yang memadai agar fasilitas yang dibangun nantinya benar-benar dapat dimanfaatkan dan berjalan secara berkelanjutan.


“Kenapa kajian itu harus dibuat? Karena kita harus mengetahui potensi bahan baku di masing-masing wilayah, termasuk seberapa besar kemampuan produksinya. Itu yang akan kita kaji untuk setiap wilayah,” katanya.


Konsep yang disiapkan tidak berhenti pada pembangunan kawasan produksi. Di dalamnya juga akan diarahkan adanya rumah produksi bersama yang dapat menjadi tempat pengolahan komoditas menjadi produk bernilai tambah.


Ia menilai perencanaan sejak awal penting agar pembangunan fasilitas industri tidak berakhir tidak optimal karena persoalan yang seharusnya dapat diketahui melalui kajian.


Aspek kebutuhan produksi, fasilitas pendukung hingga kondisi lingkungan akan menjadi bagian yang perlu diperhitungkan sebelum pembangunan dilakukan.


Dengan perencanaan tersebut, Disperindag Kutim berharap pengembangan industri berbasis komoditas unggulan dapat berjalan lebih terarah.


Potensi aren, nanas, kakao, dan pisang di masing-masing wilayah tidak hanya menghasilkan bahan mentah, tetapi dapat berkembang menjadi produk olahan yang memberikan nilai ekonomi lebih besar bagi masyarakat. (TS/ADV)



Terkini