Share ke media
Advetorial Kutai Timur

Kajian Jadi Dasar Pengembangan Kawasan Industri Komoditas Kutim

15 Sep 2026 03:00:51312 Dibaca
No Photo

Kutai Timur — Rencana pengembangan kawasan industri berbasis komoditas unggulan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tidak akan langsung diarahkan pada pembangunan fisik.


Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim terlebih dahulu menyiapkan kajian untuk memastikan kawasan yang dibangun nantinya sesuai dengan potensi bahan baku, kemampuan produksi, kebutuhan masyarakat, hingga kondisi lingkungan di masing-masing wilayah.


Kepala Bidang Industri Disperindag Kutim, Achmad Dony Erviady mengatakan bahwa kajian menjadi tahapan penting sebelum pembangunan fasilitas industri dilakukan.


Menurutnya, perencanaan yang matang diperlukan agar fasilitas yang dibangun benar-benar dapat dimanfaatkan dan tidak berhenti karena persoalan teknis maupun kebutuhan pendukung yang belum diperhitungkan sejak awal.


“Kenapa kajian itu harus dibuat? Karena kita harus mengetahui potensi bahan baku di masing-masing wilayah, termasuk seberapa besar kemampuan produksinya. Itu yang akan kita kaji untuk setiap wilayah,” ujar Dony saat ditemui di ruang kerjanya.


Dony menjelaskan, kebutuhan setiap kawasan akan berbeda karena komoditas yang dikembangkan juga tidak sama. Disperindag Kutim menjajaki pengembangan kawasan industri untuk aren genjah, nanas, kakao, dan pisang. Masing-masing kawasan nantinya harus memiliki perencanaan yang menyesuaikan dengan karakter komoditas dan kondisi wilayah.


“Jadinya nanti kawasan industri pembuatan aren, kawasan industri pembuatan nanas, kawasan industri pembuatan kakao, kawasan industri pembuatan pisang,” jelasnya.


Menurutnya, kajian juga diperlukan untuk menentukan kebutuhan fasilitas pendukung dalam kawasan tersebut. Hal ini mencakup rumah produksi bersama, ketersediaan listrik, hingga aspek lingkungan yang berkaitan dengan kegiatan produksi.


Ia mencontohkan adanya fasilitas pengolahan komoditas yang sebelumnya telah dibangun oleh instansi lain, tetapi belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena menghadapi persoalan ketersediaan listrik. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perencanaan menyeluruh sebelum sebuah fasilitas industri dibangun.


“Kalau kita buat dari awal kajiannya, itu sudah lengkap semua. Sampai dampak lingkungannya pun kita buatkan di situ,” tuturnya.


Dirinya menegaskan, pembangunan fasilitas industri tidak cukup hanya dengan menyediakan bangunan dan mesin produksi. Infrastruktur pendukung serta dampak dari kegiatan produksi juga perlu dihitung agar fasilitas dapat beroperasi secara berkelanjutan.


“Rumah produksi itu enggak saya minta-minta kita bangun, kita kasih alat. Kita kasih listrik, sudah produksi. Dampak ekonominya, dampak lingkungan, itu yang kita harapkan,” ungkapnya.


Rencana kajian tersebut akan dikembangkan bersama Universitas Mulawarman (Unmul) Kota Samarinda. Hasil kajian diharapkan menjadi dasar dalam menentukan bentuk pengembangan kawasan sekaligus memastikan program hilirisasi komoditas unggulan Kutim berjalan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.


Dengan pendekatan berbasis kajian, Disperindag Kutim ingin pembangunan industri tidak hanya berorientasi pada penyediaan fasilitas, tetapi juga memperhitungkan keberlanjutan produksi, kesiapan masyarakat, ketersediaan bahan baku, infrastruktur, dan dampak lingkungan. (TS/ADV)

Terkini