Share ke media
Advetorial Kutai Timur

Kemarau Batasi Hijauan, Fermentasi Jadi Pilihan Peternak Sapi Kutai Timur

01 Oct 2026 03:00:52305 Dibaca
No Photo

Kutai Timur – Musim kemarau menjadi salah satu tantangan bagi peternak di Kabupaten Kutai Timur dalam menjaga ketersediaan pakan. Berkurangnya rumput segar di sejumlah lokasi membuat peternak perlu mencari cara agar kebutuhan ternak tetap terpenuhi tanpa terlalu bergantung pada pasokan pakan dari luar.


Salah satu cara yang dilakukan adalah memanfaatkan sumber hijauan yang tersedia di sekitar lokasi peternakan. Rumput liar menjadi alternatif yang digunakan peternak sapi, sedangkan bahan pakan yang tersedia dapat diolah melalui proses fermentasi untuk memperpanjang masa pemanfaatannya.


Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang (Kabid) Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Peternakan (DTPHP) Kabupaten Kutai Timur, Cut Meutia, mengatakan peternak telah menyesuaikan cara penyediaan pakan dengan kondisi musim.


“Kalau pakan alternatif mereka mengambil langsung dari rumput, rumput liar atau kalau misalnya pas lagi musim sekarang ini musim kemarau, mereka melakukan fermentasi,” kata Cut Meutia di ruang kerjanya, Kamis (1/10/2026).


Menurutnya, pengolahan melalui fermentasi memberikan keuntungan karena pakan yang tersedia dapat disimpan dan digunakan ketika rumput segar mulai sulit ditemukan. Cara tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjaga persediaan selama periode kering.


“Kalau fermentasi itu bisa untuk berhari-hari apabila rumput yang dibutuhkan tidak ada, jadi mereka bisa memanfaatkan rumput yang ada di situ,” ujarnya.


Kondisi kebutuhan pakan antara ternak sapi dan unggas juga memiliki perbedaan. Untuk sapi, biaya pakan dinilai masih relatif dapat dikendalikan karena peternak mempunyai pilihan memanfaatkan hijauan yang tersedia di lingkungan sekitar.


Sementara itu, usaha ayam lebih mudah terdampak perubahan harga bahan pakan. Ketika kebutuhan pakan meningkat dan biaya produksi ikut naik, kondisi tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap harga jual ayam.


“Kalau harga pakan sapi masih bisa dikontrol, kecuali kalau ayam biasanya lebih mahal,” jelasnya.


Cut Meutia mengatakan harga ayam saat ini masih berada dalam kondisi relatif stabil. Namun, sebelumnya komoditas tersebut sempat mengalami kenaikan ketika biaya kebutuhan pakan turut meningkat.


“Kalau untuk ayam masih stabil, kecuali kadang sempat kemarin naik harga ayam karena kebutuhan pakannya juga agak naik,” tuturnya.


Situasi tersebut menunjukkan bahwa keberlangsungan usaha peternakan tidak hanya berkaitan dengan jumlah ternak yang dipelihara. Kemampuan peternak menyediakan pakan secara berkelanjutan juga menjadi bagian penting, khususnya ketika kondisi cuaca menyebabkan ketersediaan hijauan berkurang.


Pemanfaatan rumput lokal dan pengolahan pakan dengan fermentasi menjadi salah satu bentuk penyesuaian yang dilakukan peternak untuk menghadapi kondisi tersebut. Dengan strategi itu, kebutuhan pakan diharapkan tetap dapat dipenuhi sekaligus membantu mengurangi tekanan biaya selama musim kemarau. (SH/ADV)

Terkini