Kutai Timur – Biaya angkutan menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga pangan di Kutai Timur, diperberat lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) serta kondisi laut yang dapat menghambat kelancaran distribusi dari daerah pemasok.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kutai Timur Pratama Erwin Harianto mengatakan karakteristik distribusi pangan yang masih bergantung pada pasokan dari luar membuat ongkos angkut berpengaruh langsung terhadap harga komoditas yang diterima masyarakat.
“Memang di Kutai Timur ini salah satu faktor utama kenaikan harga adalah ongkos angkut,” kata Pratama di Kantor Disperindag Kutim, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, tekanan tersebut semakin terasa ketika terjadi lonjakan BBM, sementara kondisi kapal tidak selalu mendukung distribusi karena dipengaruhi El Nino, gelombang dan keadaan laut yang dapat menyulitkan perjalanan.
Gangguan pada transportasi tersebut tidak hanya berpotensi memperlambat pasokan, tetapi juga ikut meningkatkan biaya yang harus diperhitungkan dalam proses pengiriman komoditas hingga masuk ke pasar Kutai Timur.
Di tengah ketergantungan terhadap pasokan luar daerah, pemerintah juga berupaya menghadirkan komoditas lokal untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menyediakan alternatif sumber pangan.
Namun, pasokan lokal tidak selalu berarti harga lebih rendah karena karakteristik komoditas segar juga menjadi pertimbangan pedagang dalam menentukan harga jual di tingkat konsumen.
“Cabai lokal terkadang harganya lebih mahal karena kondisinya masih segar,” ujarnya.
Pratama menjelaskan cabai yang terlalu lama disimpan dapat mengalami penurunan kualitas atau menjadi kering, sehingga pedagang harus mempertimbangkan kondisi komoditas ketika menentukan harga dan waktu penjualannya.
Kondisi tersebut membuat upaya menghadirkan pasokan lokal tetap menghadapi tantangan, sebab harga tidak hanya ditentukan oleh jarak distribusi tetapi juga kualitas komoditas ketika sampai dan dipasarkan kepada masyarakat.
Menurutnya, kombinasi ongkos angkut, harga BBM serta gangguan distribusi menjadi persoalan yang perlu diperhatikan secara bersamaan dalam menjaga stabilitas harga pangan, terutama bagi daerah yang masih membutuhkan pasokan dari luar.
“Karena itu, pasokan lokal tetap diupayakan agar tersedia, meskipun biaya distribusi dan kondisi komoditas turut memengaruhi harga yang diterima masyarakat,” tandasnya. (SH/ADV)
Masukkan alamat email untukmendapatkan informasi terbaru