Kutai Timur – Kondisi kemarau mulai memberikan tekanan terhadap tanaman pangan di Kabupaten Kutai Timur. Persawahan yang telah memasuki masa tanam menjadi perhatian utama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP), terutama lahan yang tanaman padinya sudah tumbuh dan membutuhkan pasokan air.
Kepala Bidang DTPHP Kabupaten Kutai Timur Dessy Wahyu Fitria mengatakan, pihaknya telah menerima laporan kekeringan dari sejumlah wilayah. Sebagian di antaranya merupakan sawah yang tanaman padinya telah berusia sekitar 30 hingga 60 hari sehingga perlu segera mendapatkan tambahan air untuk mencegah tanaman mengalami kerusakan.
“Memang kemarau ini cukup berdampak kepada komoditas tanaman pangan, khususnya padi sawah, ada beberapa laporan kekeringan yang kondisi padinya sudah umur 30 hari atau 60 hari yang memang harus kita selamatkan,” kata Dessy di Kantor DTPHP Kutim, Rabu (23/9/2026).
Untuk menangani kondisi tersebut, pemerintah memberikan dukungan berupa pompa air dan pipanisasi kepada kelompok tani maupun petani yang membutuhkan. Peralatan tersebut digunakan untuk mengambil air dari sumber yang masih tersedia dan mengalirkannya menuju lahan persawahan.
Bantuan serupa telah disalurkan ke sejumlah kelompok yang terdampak kekeringan. Salah satu penanganan dilakukan di Kecamatan Teluk Pandan, dengan memanfaatkan pompanisasi agar air dapat dialirkan ke area persawahan yang mengalami kekurangan pasokan.
“Kami membantu kelompok-kelompok atau petani-petani itu dengan bantuan pompa dan juga pipanisasi, petani bisa mengalirkan air menggunakan pompa untuk persawahannya,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, DTPHP masih melanjutkan pendataan terhadap laporan kekeringan yang masuk dari berbagai kecamatan. Data tersebut diperlukan untuk mengetahui lokasi yang terdampak sekaligus menentukan kebutuhan intervensi, khususnya bagi lahan yang saat ini sedang ditanami padi.
Sejumlah laporan telah diterima dari Kecamatan Sangatta Selatan, Teluk Pandan, Bengalon, dan Kaubun. Selain itu, sebagian wilayah Kecamatan Sangkulirang juga masuk dalam laporan kondisi kekeringan yang sedang dipantau oleh DTPHP.
“Kita sudah mendata beberapa laporan kekeringan di beberapa kecamatan, khususnya yang sedang tanam sekarang untuk padi, laporan kekeringan ada di Sangatta Selatan, Teluk Pandan, Bengalon dan Kaubun,” jelasnya.
Menurut Dessy, pendataan tidak hanya melihat ada atau tidaknya kondisi kekeringan. Tim juga memastikan status lahan, terutama apakah tanaman padi sudah ditanam. Hal tersebut menjadi pertimbangan karena kemampuan penanganan yang terbatas membuat pemerintah perlu menetapkan skala prioritas dalam penyaluran bantuan.
“Kita fokus menyelamatkan sawah-sawah yang memang sudah ditanami, kalau mereka kekeringan tetapi belum tanam, kita mungkin belum fokus ke sana,” tegasnya.
Dengan prioritas tersebut, bantuan pompanisasi dan pipanisasi diarahkan terlebih dahulu kepada persawahan yang tanaman padinya sudah berada di lahan. Upaya ini dilakukan untuk menjaga tanaman yang telah tumbuh agar tetap mendapatkan kebutuhan air selama kondisi kemarau berlangsung.
Sementara itu, lahan yang mengalami kekeringan tetapi belum memasuki masa tanam tetap menjadi bagian dari pendataan dan pemetaan DTPHP. Pemerintah akan melihat perkembangan kondisi di lapangan serta kebutuhan masing-masing wilayah sebelum menentukan bentuk penanganan selanjutnya. (SH/ADV)
Masukkan alamat email untukmendapatkan informasi terbaru