Kutai Timur – Sejumlah komoditas pertanian dan perkebunan Kabupaten Kutai Timur mulai diarahkan untuk memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi melalui pengembangan produk turunan dan perluasan pasar. Pisang dan nanas menjadi komoditas hortikultura yang tengah mendapat perhatian, sementara kakao juga memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut di sektor perkebunan.
Namun, upaya tersebut tidak dapat langsung masuk ke tahap hilir. Pemerintah daerah masih perlu memperkuat produksi, memperluas areal pengembangan, serta memastikan ketersediaan pasokan sebelum membangun kerja sama usaha dalam skala yang lebih besar.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Kutai Timur Purno Edi mengatakan, peningkatan produksi menjadi tahap awal yang harus diperkuat sebelum komoditas dikembangkan menuju produk turunan.
Purno menyampaikan hal tersebut saat ditemui di Kantor DTPHP Kutim, Senin (31/8/2026). Menurutnya, pengembangan komoditas tidak hanya berbicara mengenai hasil panen, tetapi juga bagaimana produk tersebut memiliki identitas dan daya saing ketika masuk ke pasar yang lebih luas.
“Kita satu untuk skala ini di horti sedang mengupayakan peningkatan produksi dulu sama luasan, kalau itu sudah, kita enggak tinggalkan, kita bikin IG-nya, indikasi geografisnya, baru nanti kita dorong lagi ke hilirnya,” jelas Purno.
Untuk komoditas hortikultura, pisang dan nanas menjadi dua produk yang saat ini terus dikembangkan. Pemerintah daerah melihat peluang pengolahan hasil panen menjadi berbagai produk turunan yang dapat memberikan tambahan nilai ekonomi bagi petani.
Nanas, misalnya, tidak hanya berpotensi dimanfaatkan dari sisi buahnya. Bagian lain dari tanaman tersebut juga dapat dikembangkan untuk kebutuhan tertentu, termasuk pemanfaatan serat. Namun, proses menuju hilirisasi membutuhkan keterlibatan sejumlah pihak karena rantai pengembangannya tidak hanya berada pada kewenangan DTPHP.
“Bukan hanya dari dinas kita, hilirnya nanti bisa Disperindag, alatnya nanti biar Disperindag ataupun di sini enggak apa-apa juga, tapi lebih ke Disperindag untuk itu,” sebutnya.
Koordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim telah dilakukan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkenalkan potensi komoditas daerah melalui kegiatan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) di Tangerang.
Upaya promosi tersebut mendapat respons dari calon mitra usaha. Namun, kerja sama dengan pelaku usaha memiliki persyaratan yang perlu dipenuhi, terutama berkaitan dengan kemampuan daerah menjaga ketersediaan produk secara konsisten.
“Minat ada, tapi senantiasa ketika bersama mitra usaha ini apa yang dituntut, keberlanjutan, dalam arti keberlanjutan dalam stok, jumlah yang ditentukan, sama sampai kapan,” ujarnya.
Persoalan pasokan tersebut menjadi salah satu pekerjaan penting yang perlu diselesaikan sebelum pasar yang lebih luas dibidik. Mitra usaha membutuhkan kepastian mengenai jumlah produk yang tersedia, waktu pengiriman, serta keberlanjutan pasokan dalam periode tertentu.
Untuk nanas, kawasan Batu Ampar saat ini menjadi salah satu pusat pengembangannya. Meski demikian, DTPHP tetap membuka kemungkinan pengembangan di kecamatan lain apabila terdapat lahan dan kondisi yang mendukung.
Sementara itu, komoditas pisang terus didorong setelah memiliki indikasi geografis. Pengembangan selanjutnya diarahkan tidak hanya pada pemasaran buah segar, tetapi juga membuka peluang pengolahan menjadi produk turunan sehingga nilai ekonominya dapat meningkat.
Dari sisi pemasaran, pisang Kutai Timur telah memiliki pasar di luar daerah. Komoditas tersebut telah dikirim ke sejumlah wilayah, termasuk Berau dan Tarakan. Kondisi berbeda terlihat pada nanas yang saat ini masih lebih banyak memenuhi kebutuhan pasar lokal.
Karena itu, peningkatan produksi dan penguatan pasokan menjadi bagian penting dalam pengembangan komoditas unggulan Kutai Timur. Pemerintah daerah perlu memastikan kapasitas produksi mampu mengikuti kebutuhan pasar sebelum memperluas jaringan pemasaran dan membangun kerja sama dengan mitra usaha dalam skala yang lebih besar.
Dengan memperkuat produksi, identitas komoditas, pengolahan serta jaringan pemasaran secara bertahap, pisang, nanas dan kakao diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi Kutai Timur. Hilirisasi menjadi arah pengembangan, sementara kepastian pasokan menjadi salah satu kunci agar peluang pasar yang mulai terbuka dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. (SH/ADV)
Masukkan alamat email untukmendapatkan informasi terbaru