Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur terus mendorong peningkatan produksi pangan untuk mendukung target swasembada. Upaya tersebut dilakukan dengan memperluas lahan pertanian sekaligus meningkatkan frekuensi penanaman agar hasil produksi tidak hanya bergantung pada penambahan areal.
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Kutai Timur menjalankan strategi melalui ekstensifikasi dan intensifikasi. Kedua pendekatan tersebut diarahkan untuk menambah kapasitas produksi, baik melalui perluasan lahan maupun peningkatan produktivitas dari sawah yang telah dimanfaatkan petani.
Kepala Bidang DTPHP Kabupaten Kutai Timur Dessy Wahyu Fitria mengatakan, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah meningkatkan produksi tanaman pangan sekaligus mendukung pencapaian swasembada.
“Kita sudah melakukan ekstensifikasi maupun intensifikasi,” kata Dessy di Kantor DTPHP Kutai Timur.
Salah satu bentuk perluasan lahan yang dilakukan pemerintah adalah melalui program cetak sawah. Penambahan areal tersebut diharapkan dapat membuka ruang produksi baru sehingga jumlah lahan yang dapat digunakan untuk menanam padi semakin bertambah.
“Intensifikasi ini dalam rangka saat ini kita juga sudah melakukan cetak sawah atau perluasan areal-areal padi di Kabupaten Kutai Timur,” ujarnya.
Selain memperluas area pertanian, pemerintah daerah juga berupaya meningkatkan hasil dari lahan yang sudah tersedia. Penggunaan benih menjadi salah satu bagian dari langkah tersebut, disertai upaya meningkatkan produktivitas tanaman agar hasil yang diperoleh dari setiap lahan dapat lebih optimal.
“Kita juga meningkatkan penggunaan benih dan peningkatan produksi,” tuturnya.
Menurut Dessy, peningkatan produksi tidak cukup hanya mengandalkan penambahan luas lahan. Frekuensi tanam dalam satu tahun juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Saat ini, sebagian petani masih melakukan penanaman satu hingga dua kali dalam setahun.
Kondisi tersebut membuat peningkatan indeks pertanaman menjadi salah satu sasaran yang terus didorong DTPHP. Semakin sering lahan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya, peluang peningkatan produksi juga semakin terbuka, dengan tetap mempertimbangkan kondisi lahan dan ketersediaan pendukung pertanian.
“Kita juga mendorong peningkatan indeks pertanaman, selama ini masyarakat tanam satu kali sampai dua kali per tahun,” jelasnya.
Pemerintah daerah kemudian menargetkan agar frekuensi tanam dapat meningkat secara bertahap. Petani diharapkan dapat melakukan penanaman hingga dua atau tiga kali dalam setahun sehingga produksi pangan dapat ditingkatkan tanpa sepenuhnya bergantung pada pembukaan lahan baru.
“Harapannya untuk mencapai swasembada kita juga harapkan petani bisa tanam antara dua sampai tiga kali per tahun,” tandasnya.
Peningkatan produksi melalui strategi tersebut membutuhkan penyesuaian dengan kondisi masing-masing wilayah. Ketersediaan air, kesiapan lahan, benih, serta kemampuan petani menjadi bagian yang perlu diperhatikan agar peningkatan frekuensi tanam dapat berjalan secara optimal.
Dengan demikian, DTPHP menempatkan perluasan sawah dan peningkatan indeks pertanaman sebagai dua langkah yang saling melengkapi. Penambahan areal memberikan ruang produksi baru, sementara optimalisasi lahan yang sudah ada diharapkan mampu meningkatkan hasil secara berkelanjutan.
Kombinasi kedua strategi tersebut diharapkan dapat memperbesar kapasitas produksi pangan Kutai Timur secara bertahap dan mendukung upaya pemerintah daerah memenuhi kebutuhan pangan melalui produksi lokal. (SH/ADV)
Masukkan alamat email untukmendapatkan informasi terbaru